Abad Pertengahan (Feodalisme, Ksatria, dan Gereja)

Situs-situs bacaan tambahan:

  1. http://www.lordsandladies.org/feudalism-and-knights.htm
  2. http://www.kinderzeitmaschine.de/mittelalter/lucys-wissensbox/kategorie/kunst-von-einem-stil-namens-romanik-minnesang-buchmalerei-und-kirchenschaetzen/frage/die-kathedrale.html?ut1=10&ht=4
  3. http://www2.palomar.edu/users/mhudelson/StudyGuides/RmnsqvsGothic_WA.html
  4. https://www.youtube.com/watch?v=3Q23AIIiw68

Sejarah Jerman Versi Ringkas I: Dari Germania sampai Masa Perpindahan Bangsa-bangsa

Artikel ini saya tulis untuk menggambarkan sedikit tentang sejarah Jerman. Jika ada yang mau ditambahkan silakan tulis di bagian komentar. Dasar tulisan ini diambil dari berbagai sumber. Namun sumber utamanya adalah buku Menschen Werke Epochen karya Christoph Parry.

Definisi

Orang-orang Germania (dengan ‘G’ seperti dalam ‘garam’, bukan ‘j’ seperti dalam ‘jurang’) adalah orang-orang yang hidup di Eropa tengah sejak masa Romawi kuno. Saya menggunakan istilah ‘Orang German’ atau ‘Orang Germania’ untuk membedakannya dari ‘Orang Jerman’ dalam konteks Modern. (Jermannya, untuk membedakan Deutsche dari Germanen). Mengapa saya bedakan? Karena dapat disimpulkan dari catatan sejarah bahwa suku bangsa keturunan bangsa Germania tersebar di sekujur Eropa, bukan hanya orang Jerman saja.

Etimologi german kurang jelas. Ditulis Terry Jones dalam buku Barbarians, kata itu berasal dari kata gaizamannoz, yang berarti pemegang tombak. Sedangkan kata deutsch, berasal dari kata althochdeutsch, diutisc (latinnya, theodiscus) yang berarti ‘rakyat’.

Keadaan pada Zaman Kuno

Daerah Germania yang memiliki banyak hutan terletak di seberang Sungai Rhein (kalau dilihat dari wilayah Galia-Romawi) dan di seberang Pegunungan Alpen (kalau dilihat dari Semenanjung Italia). Di sanalah tempat tinggal suku-suku yang menggunakan bahasa yang sama. Suku-suku yang tercatat antara lain suku Frank (Frankia, Franka), Alamanni, Yuta, Saksen, Kheruski, Vandal, dan Goth. Seorang sejarawan Romawi, Tacitus, menulis buku tentang mereka yang berjudul Germania.

Komunitas suku bangsa Germania di sana bukanlah suatu entitas politik yang bersatu di bawah seorang kaisar (atau raja) seperti Kekaisaran Romawi. Mereka terbagi dalam kelompok-kelompok kecil suku yang erat persaudaraannya.

Agama mereka lebih dekat dengan alam daripada agama Romawi/Yunani. Orang-orang Germania tidak membangun kuil-kuil besar seperti orang Romawi. Mitologi mereka kurang lebih sama seperti mitologi Skandinavia/Germania Utara. Dewa-dewa mereka antara lain Woden (Odin) dan Donner (Thor).

Legenda

Suku Bangsa Germania juga memiliki beberapa legenda yang tertulis dalam bentuk sajak. Misalnya Hildebrandslied, yang mengisahkan pertempuran dua orang prajurit—Hildebrand dan Hadubrand—yang sebenarnya adalah ayah dan anak yang telah terpisah bertahun-tahun, dan Nibelungenlied, yang mengisahkan petualangan pendekar bernama Siegfried/Sigurd sampai akhir hayatnya dan pembalasan dendam istrinya, Kriemhilda atas kematiannya. Dalam kisah Nibelungenlied terdapat juga tokoh yang benar-benar ada seperti Etzel (Atilla si orang Hun), dan Dietrich von Bern.

Arminius

Beberapa suku Germania yang hidup bertetangga dengan provinsi Romawi memerangi mereka, beberapa suku lainnya berdagang dan hidup damai. Namun, wilayah Germania Magna tidak pernah diduduki seutuhnya oleh Romawi seperti bangsa tetangga mereka, Galia.

Salah satu suku Germania yang penting pada masa awal kalender Masehi adalah suku Kheruski. Meskipun pada masa-masa setelahnya suku itu tidak memiliki prestasi yang terlalu gemilang, pada masa pramigrasi mereka menjadi penting karena seorang tokoh bernama Arminius.

Arminius (diduga memiliki nama German Herrmann) adalah seorang putra Kheruski yang dididik oleh bangsa Romawi. Namun Arminius berbalik mengkhianati kekuasaan Romawi dan memimpin suku-suku Germania setempat menghabisi satu legiun Romawi di bawah Quinctilius Varus dalam pertempuran di Hutan Teutoburg[1].

Meskipun begitu, Arminius tidak pernah menyerbu tanah air Romawi dan tidak pernah berhasil menyatukan seluruh suku bangsa Germania akibat pertentangan internal di kalangan suku-suku yang dipimpinnya.

Völkerwanderung

Hal penting selanjutnya dalam perjalanan sejarah suku Germania adalah masa Völkerwanderung (disebut juga Masa Migrasi, Perpindahan Bangsa-bangsa, atau Invasi Kaum Barbar) yang terjadi antara abad ke-4 sampai abad ke-9. Pada masa itu beragam suku-suku bangsa di wilayah sekitar Laut Tengah mengadakan migrasi besar-besaran. Kemungkinan yang menyebabkan pergerakan ini adalah invasi bangsa Hun dari Asia atau iklim ekstrim yang terjadi pada masa itu. Contoh suku Germania yang penting pada masa itu antara lain:

  1. Suku Yuta, Anglia, dan Saksen menyeberang laut dan menyerbu suku Kelt di Kepulauan Britania Timur. Suku Anglia dan Saksen menjadi nenek moyang bangsa Inggris modern.
  2. Suku Vandal bergerak sampai ke Afrika Utara.
  3. Suku Goth berpisah menjadi dua kelompok: Goth Timur (Ostrogoth) dan Goth Barat (Visigoth). Suku Goth Timur di bawah Alaric dan Athaulf sering disebut sebagai suku yang menghancurkan Kekaisaran Romawi Barat. Suku Goth Barat menduduki Spanyol sampai akhirnya ditaklukkan orang-orang Moor pada abad ke-8.
  4. Suku Frank menduduki wilayah Galia Romawi. Kelak mereka akan menjadi salah satu suku terpenting dalam masa awal Abad Pertengahan.

[1] Konon Kaisar Augustus frustrasi dan menjerit-jerit “Varus! Kembalikan legiunku” atas kekalahan tersebut.

How to learn a new language: 7 secrets from TED Translators

TED Blog

Learning_a_languageBy Krystian Aparta

They say that children learn languages the best. But that doesn’t mean that adults should give up. We asked some of the polyglots in TED’s Open Translation Project to share their secrets to mastering a foreign language. Their best strategies distill into seven basic principles:

  1. Get real. Decide on a simple, attainable goal to start with so that you don’t feel overwhelmed. German translator Judith Matz suggests: “Pick up 50 words of a language and start using them on people — and then slowly start picking up grammar.”
    .
  2. Make language-learning a lifestyle change. Elisabeth Buffard, who in her 27 years of teaching English has always seen consistency as what separates the most successful students from the rest. Find a language habit that you can follow even when you’re tired, sick or madly in love.
    .
  3. Play house with the language. The more you invite…

Lihat pos aslinya 466 kata lagi

Hasil Survei Novel Terjemahan

bruziati

577317_10202043530077978_841476683_n

Alhamdulillah, selesai juga merekap hasil survei novel terjemahan yang diluncurkan beberapa waktu lalu. (Kayak berat banget ya usahanya. Padahal mah… emang lumayan 😀 ) Penasaran? Kepingin tahu hasilnya? Silakan dibaca ringkasannya berikut ini. Jangan bosan ya, karena banyak sekali masukan, saran, dan kritik yang bagus untuk para penerjemah.

Jumlah Responden: 100

Q1 Seberapa sering membaca novel terjemahan?
Jarang (15)
Kadang-kadang (24)
Sering (61)

Q2 Apa yang disukai dari novel terjemahan?
1. Jawaban terbanyak: karena memang menyukai novel aslinya / lebih menyukai novel karangan penulis luar dalam hal tema, ide cerita, penokohan, gaya bahasa, dll.
2. Masih berkaitan dengan alasan pertama, novel terjemahan disukai karena dapat menambah wawasan tentang budaya asing dan memudahkan pembaca untuk mengenal khazanah sastra luar negeri.
3. Novel terjemahan juga disukai karena menggunakan bahasa Indonesia, bahasa ibu pembaca, sehingga lebih mudah dipahami dan proses membaca juga lebih cepat dibandingkan jika membaca buku aslinya. Selain itu, pemilihan kata dalam novel…

Lihat pos aslinya 965 kata lagi

Merah yang Bukan Kirmizi

Rubrik Bahasa

Anton Kurnia* (Majalah Tempo, 10 Feb 2014)

Dalam kata-kata Orhan Pamuk, novelis Turki pemenang Nobel Sastra 2006, melalui narator si warna merah dalam adikaryanya Benim Adim Kirmizi (1998) atau My Name Is Red, “Warna adalah sentuhan mata, musik bagi mereka yang tuli, sepatah kata yang dilahirkan kegelapan.”

Novel yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Atta Verin sebagai Namaku Merah Kirmizi (2006) ini menyatakan warna sebagai “kata yang dilahirkan kegelapan” dan tentu membutuhkan cara membedakan warna yang spesifik dan deskripsi yang akurat agar tak terjadi kekeliruan satu dengan yang lain, misalnya antara merah dan jambon.

Namun bahasa Indonesia memiliki kosakata warna yang amat terbatas jika dibandingkan dengan kosakata warna lebih rinci dari khazanah bahasa asing. Persoalan itu amat terasa, misalnya, dalam kerja penerjemahan teks sastra.

Lihat pos aslinya 593 kata lagi