Hasil Survei Novel Terjemahan

bruziati

577317_10202043530077978_841476683_n

Alhamdulillah, selesai juga merekap hasil survei novel terjemahan yang diluncurkan beberapa waktu lalu. (Kayak berat banget ya usahanya. Padahal mah… emang lumayan 😀 ) Penasaran? Kepingin tahu hasilnya? Silakan dibaca ringkasannya berikut ini. Jangan bosan ya, karena banyak sekali masukan, saran, dan kritik yang bagus untuk para penerjemah.

Jumlah Responden: 100

Q1 Seberapa sering membaca novel terjemahan?
Jarang (15)
Kadang-kadang (24)
Sering (61)

Q2 Apa yang disukai dari novel terjemahan?
1. Jawaban terbanyak: karena memang menyukai novel aslinya / lebih menyukai novel karangan penulis luar dalam hal tema, ide cerita, penokohan, gaya bahasa, dll.
2. Masih berkaitan dengan alasan pertama, novel terjemahan disukai karena dapat menambah wawasan tentang budaya asing dan memudahkan pembaca untuk mengenal khazanah sastra luar negeri.
3. Novel terjemahan juga disukai karena menggunakan bahasa Indonesia, bahasa ibu pembaca, sehingga lebih mudah dipahami dan proses membaca juga lebih cepat dibandingkan jika membaca buku aslinya. Selain itu, pemilihan kata dalam novel…

Lihat pos aslinya 965 kata lagi

Iklan

Merah yang Bukan Kirmizi

Rubrik Bahasa

Anton Kurnia* (Majalah Tempo, 10 Feb 2014)

Dalam kata-kata Orhan Pamuk, novelis Turki pemenang Nobel Sastra 2006, melalui narator si warna merah dalam adikaryanya Benim Adim Kirmizi (1998) atau My Name Is Red, “Warna adalah sentuhan mata, musik bagi mereka yang tuli, sepatah kata yang dilahirkan kegelapan.”

Novel yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Atta Verin sebagai Namaku Merah Kirmizi (2006) ini menyatakan warna sebagai “kata yang dilahirkan kegelapan” dan tentu membutuhkan cara membedakan warna yang spesifik dan deskripsi yang akurat agar tak terjadi kekeliruan satu dengan yang lain, misalnya antara merah dan jambon.

Namun bahasa Indonesia memiliki kosakata warna yang amat terbatas jika dibandingkan dengan kosakata warna lebih rinci dari khazanah bahasa asing. Persoalan itu amat terasa, misalnya, dalam kerja penerjemahan teks sastra.

Lihat pos aslinya 593 kata lagi

Cry of Animals

Alimmustafa's Blog

Cry of animals adalah suara binatang, seperti:
A beed buzzes — Lebah berdengung
A bird chirps and twitters — Burung bercicit-cicit
A bird whistles/sings — Burung bersiul
A bull bellows — Sapi/banteng melenguh
A cat purrs and mew — Kucing mengeong
A cock crows — Ayam jantan berkokok
A cow lows — Sapi menguak
A cricket shirps — Jengkrik mengerik
A dog barks — Anjing menggonggong
A donkey brays — Keledai meringkik
A dove/pigeon coos — Merpati mendekur
A duck quacks — Bebek berbunyi kwek-kwek
An elephant trumpets — Gajah berterompet/menguak
A frog croaks — Katak mengorek
A goat/sheep bleats — Kambing/biri-biri mengembik
A hen cackles — Ayam (betina) berkotek
A horse neighs — Kuda meringkik
A monkey chatters — Kera mengoceh/menjerit-jerit
A mouse squeaks —- Tikus mencicit
An owl hoots — Burung hantu melengut
A pig grunts and squeals — Babi mengorok dan mendengking
A snake hisses — Ular…

Lihat pos aslinya 19 kata lagi